Yayasan FLOWGI


Cerita Suka Duka

_______________________________________________________________

selengkapnya
(cerita Agus> “Indahnya Kebersamaan”
Yogyakarta, 20 – 24 Juni 2006

***********************

A story of Yani - Lombok-Indonesia

 

Nama saya Rahmi Afriani, lahir pada tanggal 12 april tahun 1984.

Sejak July 2004 saya  kuliah di  IKIP Mataram. November 2006, saudara saya Rifai memperkenalkan saya dan keluarga saya dengan pak Ronald dari yayasan Flowgi Belanda.

  

baca cerita Yani selengkapnya


____________________________________________________

 

  A story of my life by Ennie (Flowgi staf Yogya) 
I was born on May 5th, 1984 in Magetan a small city in East Java.
I started to study in 1989 when I was five years old. I studied in
kindergarten that belong to sugar factory. ____________________________________________________

 

Juli 2006 Riwayat Ripai (Flowgi staf Yogya)
Ketika malam tiba bpk saya dengan sabar mengajari saya membaca
buku dibawah sinar lampu minyak tanah yang biasa dikenal dengan
sebutan lampu teplok karena waktu itu dikampung belum masuk listrik.

___________________________________________________________

Juni 2006 Riwayat Agus Supriadi (Flowgi Staf Yogya)

 Saya dilahirkan pada tanggal 16 Agustus 1980 di sebuah desa terpencil
di ujung barat pulau Lombok yang sekarang menjadi pelabuhan, bernama
Lembar kecamatan Gerung. Saya lahir dari keluarga yang pada waktu itu
mungkin bisa dikatakan berpenghasilan kurang kalaupun tidak hanyalah
dari keluarga yang sangat pas-pasan keadaannya.

 

 ____________________________________________________

 A story by Erwin Wein
Pelajaran pertama saya tentang sosial adalah di sebuah Panti Asuhan di
daerah Kalasan, Jogjakarta. Yaitu PA. Mardi Siwi. Saya sangat terkesan, terharu,
senang, sedih, bahagia dan lain sebagainya. Dimana dulunya saya merasa bahwa saya
miskin, namun mereka lebih miskin. Dimana dulunya saya merasa kaya,
ternyata mereka lebih kaya.

selengkapnya

_______________________________________________________________

 

 June  2006 A STORY FROM BANJARDADAP, BANTUL

MATAHARI ITU MASIH ADA

  Pagi itu Hari Sabtu 27 Mei 2006 lebih kurang pukul 05.55 WIB, sewaktu aku
 membuka pintu garasi, anak-anakku dengan mudah meluncur menaiki sepedanya
untuk pergi ke sekolah, tiba-tiba terasa ada guncangan, segera aku berfikir ini
gempa. Namun belum selesai aku membuka kancing pintu, tiba-tiba guncangan itu
terasa keras….keras…keras sekali. Serta merta aku berteriak meneriaki anak-anakku
agar segera keluar, apalagi setelah aku melihat sebagian dinding garasi ambrol,
bersamaan dengan itu anak-anakku telah sampai di tempat aku berdiri. Waktu
itu anakku yang ke-2 sedang menyisir rambut di dalam rumah, anakku yang ke-3
sedang mandi, sedang anakku yang pertama sedang di Jakarta untuk menuntut ilmu.


Begitu kedua anakku keluar, segera aku peluk, pecahlah tangis kami bertiga, aku
sempat berucap "Ya Tuhan, mengapa bencana demi bencana engkau timpakan
kepada kami?". Kami berfikir hanya kamilah yang mendapat musibah ini. Betapa
tidak, setahun terakhir ini keluarga kami sedang tertimpa musibah. Pertama pada
bulan maret 2005, tepatnya pada tanggal 5 Maret 2006 keluargaku ditinggalkan
oleh suamiku tercinta. Ia dipanggil Tuhan melalui sebuah kecelakaan yang
mengakibatkan suamiku meninggal di tempat kejadian. Sedang beberapa bulan
kemudian aku sendiri mendapat kecelakaan yang mengharuskan aku menjalani
terapi fisioterapi, agar tidak terjadi sesuatu dengan tulang punggungku.
Trauma
sempat aku alami, hingga beberapa bulan aku tidak berani naik sepeda motor.


Namun aku mencoba bangkit demi ketiga anakku. Kesehatan dan kekalutan
 pikiranku

baru saja pulih, ternyata Tuhan masih menguji kesabaranku.

Tanpa kami duga aku menemukan suatu benjolan di salah satu organ tubuhku.
Aku menjerit, menangis,

musibah macam apa pula ini, pikirku. Namun aku masih ingat aku harus tegar
menghadapi semua ini, agar anak-anakku jangan sampai patah semangat karena
sudah ditinggal ayahnya tersayang secara mendadak dan segera ke dokter.
Atas
saran dokter aku harus menjalani operasi. Tepatnya tanggal 27 Januari 2006

aku menjalani operasi. Maka ketika gempa terjadi dan sebagian rumah kami,
 terutama

garasi hancur, aku berfikir "ini bencana buat aku".


Namun setelah kami bertiga berhasil keluar ternyata rumah-rumah di kanan-kiri,
muka belakang sudah hancur. Lagi-lagi aku menjerit " Ya Allah ma’afkan aku yang
telah salah ucap. Terima kasih Engkau masih menyisakan rumah untuk tempat
bernaung kami. 


Ke esokan paginya aku mencoba datang ke sekolah tempat aku bekerja,
"astaga sekolah kami hancur, kanan kiri rata dengan tanah.pikiranku segera
melayang " apa yang mesti aku perbuat, selaku Kepala Sekolah di SD ini?" 

Berhari-hari pikiran ini kacau melihat situasi berantakan dan melihat tempat
tugas
hancur-hancuran aku harus berfikir keras, bagaimana agar anak-anak
didikku dapat bangkit kembali ke sekolah? Apa mungkin?
Suatu prtanyaan besar yang menyesakkan

di dada. Betapa tidak, dari fihak Dinas pendidikan memang sudah mendata,
tapi sampai tulisan ini saya buat belum ada informasi mau diapakan sekolah ini.

Beruntunglah bagi kami, dengan hadirnya "save People dan Mahasiswa KKN"
sedikit banyak menghibur hati kami, lebih dari itu kami diperkenalkan dengan
seseorang dari Holland yang memiliki yayasan atau lembaga "FLOWGI" yang
bernama Mr. Ronald. Bagaikan melihat di ufuk timur yang menyibak
kegelapan
malam.
Apalagi setelah beliau menawarkan sesuatu yang pada dasarnya untuk
membangun
puing-puingreruntuhan bagi sekolah kami,
betapa gembira hati ini.

Puing-puing reruntuhan yang meliputi sesuatu dibutuhkan anak-anak didik kami
untuk kembali ke bangku sekolah dengan layak. Dari kami nantinya akan dibantu
tidak hanya pakaian seragam, namun juga alat sekolah, buku-buku pelajaran,
biaya sekolah anak-anak, juga alat-alat pelajaran. Tidak kalah menggembirakan
hati ini nantinya permasalahan dari bapak/ibu guru juga akan dicover.
Hal ini memang tepat sekali, jika anak didik terangkat fasilitasnya
 namun tenaga pengajarnya masih terpuruk, tidak mungkin pendidikan akan
berjalan baik.

Kami berharap dengan kerendahan hati agar nantinya sarana dan prasarana
sekolah dapat tersentuh oleh "FLOWGI". Dalam hal ini kami benar-benar berharap.
Kami tidak mengesampingkan pemerintah, namun sekali lagi sampai tulisan ini saya
buat belum ada tindakan nyata dari pemerintah, padahal kalau dihitug sudah
 30 hari berlangsung. 

 

Kehadiran Bpk Ronald beserta staff "FLOWGI" yang pertama kali benar-benar
membuat kami gembira. Apalagi setelah kehadiran pada hari ke 2 kami diajak
untuk beramah tamah bersama anak-anak didik dalam rangka perkenalan untuk
lebih mengakrabkan diri. Dalam acara ini kami diajak makan bersama, anak-anak
kelihatan sangat gembira demikian juga staff pengajar baik di SD Banjardadap dan
di TK Panca Sakti. 
 

Maka aku mengibaratkan kehadiran  "FLOWGI"  bagaikan matahari yang
menyibak kegelapan dihatiku. FLOWGI yang membangkitkan semagatku untuk
mengabdi diri
pada dunia pendidikan. FLOWGI yang mendorong agar aku berinovasi untuk
kemajuan anak didikku. Lebih dari itu kehadiran FLOWGI membuat anak-anakku
tetap bersemangat walau mereka hidup tanpa adanya Ayah sebagai "Saka Guru"
dan dapat melupakan peristiwa 27 Mei 2006 itu. Hal ini merupakan dampak tak
langsung dari FLOWGI buat keluargaku yang sangat menguntungkan buat aku.


Banjardadap, 26 juni 2006

SRI WISMIYATI, S.Pd.

_______________________________________________________________

A STORY BY RISNAWATI A GIRL FROM MARDI SIWI

I am a girl from a remote village in Tuban, East Java, and my name is Risnawati.

I was born from a very poor family, and my parents have 3 children. My father
works as a farmer and his income was not enough to support the family,
so I had  to stop going to school. In July 1994, when I was in year 4 in primary
school, I went away with a theology student, who was having a work experience
at our church, to Mardi Siwi Orphanage in Yogyakarta, and that was 9 years ago,
and to this day I still live here.

There was an experience that really stay on my mind. When I was in year
6 primary school, some of my friends and I sold newspapers ‘
Suara Pembaharuan’ at traffic lights in Yogyakarta from 3 to 7 p.m., and we
were doing it for about 4 years. The incomes were used as our pocket money,
because at that time Mardi Siwi Orphanage was almost closed down because
of a lack of funding. But thanks God, God’s help always comes right on time,
so the orphanage was not closed down.

In 1999 we stopped selling the newspapers because Indonesia
was experiencing monetary crisis,
so lots of the children couldn’t continue with their education
and they were forced to became beggars, selling newspapers, and even
 selling drugs. And this has an impact to the children in Mardi Siwi, because
some of our friends were influenced and misled. After I stopped selling
newspapers,
I then sold cakes and cookies for about 2 years, and I had to stop as well
because I didn’t make any money.

Other experience is about our place and facilities in Mardi Siwi Orphanage,
it started very modest. For until 1996, the orphanage only had 8 bedrooms,
and there were 4-6 children in each room, and 3 staff for everybody.

In 1997, they started building a room at the back of the building, then kitchen,
dining room, and an office followed. Even though it’s been built step by step,
the condition in the orphanage was still very worrying because every year
they have more and more children. We were always hoping and praying,
until one day God listened to our prayers, and through Mr. Flokstra, we can
renovate the kitchen, office, dining room and also build the sceptic tank.
Besides that, we also got some help with kitchen utensils, pillow, bed spreads,
pillow covers, and some presents like stationary, library books, soaps, etc.

And now there are 50 children who live in Mardi Siwi Orphanage, they came
from all over Indonesia. I am very happy living here, because not only that
I can go to school, but I can also learn to understand about some of my
friends that came from East Java, Yogra, Central Java, West Java,
South of Sumatera, North of Sumatera, West of Kalimantan, East of Kalimantan,
and also Central of Sulawesi.

At the moment I am in my last year in Senior High School, and my plan is when
I finish (July 2003) I want to continue my study in Theology in Jakarta,
but I haven’t got the money to do it. I really dream to become a counsellor ,
to help the unfortunate people that live on the street, and I will really be
grateful if there is anybody that can help me to realise my dream.

That’s all my story for now, thank you very much to Mr. Flokstra and family,
and also all the sponsors who allow my story to be put in your magazine.

God bless you.

Best wishes,

Risnawati
Mardisiwi, Yogya

 

Girls and Boys from Mardi Siwi

________________________________________________________________________
                                                                                   Back to top

Yayasan FLOWGI | Roekenbos 148 | 2134 VL Hoofddorp
Kamer van Koophandel 34212076 | Postbank 44.03.596
tel. +31 23 5613942 | info@flowgi.org